RAPOTAN

Oleh : Drs. Ahmad Zainul Arifin, M.PdI (Wk-1 STIT Muhammadiyah Bojonegoro)

Sebuah fenomena yang terjadi pada setiap akhir semester dan akhir tahun pelajaran, di setiap sekolah / lembaga pendidikan formal. Pada tahun ini puncaknya terjadi pada hari Sabtu tanggal 22 Juni dan Ahad tanggal 23 Juni 2013. Berduyun-duyun para orang tua / wali murid mendatangi sekolah dimana putra/putrinya menempuh pendidikan.

Konon kata rapot /rapor berasal dari bahasa Belanda yakni rapport yang berarti laporan atau bisa juga diartikan catatan nilai kepandaian. Memang, raport memuat beberapa informasi dari sekolah untuk orang tua tentang perkembangan kepandaian, kecakapan ataupun kepribadian peserta didik. Hal ini merupakan bentuk pertanggungjawaban pihak sekolah yang telah mendapat kepercayaan dan tangunggjawab dari para orang tua / wali murid dalam mendidik, mengarahkan dan membimbing anak-anaknya. Wajar bila momen ini menjadi monumental dan penuh arti.

Idealnya forum ‘rapotan’ merupakan forum curhat, dialog interaktif antara dua pihak orang dewasa dalam uapaya mendewasakan anak / individu yang belum dewasa. Rasanya memang tidak cukup, bila ‘rapotan’ yang pada hakikatnya merupakan laporan proses pendidikan hanya berupa laporan tertulis, hitam diatas putih. Terdapat beberapa persoalan yang perlu diketahui dan diselesaikan bersama dengan penuh pengertian. Berbagai harapan dan hambatan yang muncul bisa dimusyawarahkan agar ditemukan solusi dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik agar dapat mencapai kedewasaannya.

Mengingat pentingnya forum ini, banyak orang tua yang peduli dan penuh perhatian rela meninggalkan aktifitasnya guna menghadiri acara ini. Meskipun tidak jarang, ada orang tua yang mewakilkan kepada salah seorang famili atau tetangga untuk menghadiri acara ini, dengan alasan kesibukan atau yang lain. Dan yang paling tragis adalah meminta/menyuruh pembantu rumah tangganya untuk menghadiri acara ‘rapotan’ ini. Disisi lain, banyak sekolah mengemas forum ‘rapotan’ ini dalam sebuah acara yang demikian formal. Dengan alasan praktis, simpel dan efisien, pihak sekolah menggelar acara ‘rapotan’ bersamaan dengan pelepasan siswa kelas akhir, dengan sederet ceramah yang menjemukan. Tentu hal yang demikian menjadikan idealisme yang diingingkan pihak sekolah kurang mendapat respon yang seimbang dari orang tua / wali murid, demikian pula sebaliknya, sehingga tidak terjadi interaksi yang enjoy dan tidak diperoleh feedback yang proporsional, karena forum ‘rapotan’ tidak sekedar acara pembagian atau penerimaan buku raport melainkan laporan pendidikan dengan segala ranah dan aspeknya.
Bila kedua belah pihak sma-sama menginginkan forum yang simpel, praktis dan efisien, tidakkah pernah terpikir format ‘rapotan’ yang nyaman dan tidak bertele-tele? Misalkan saja diformat secara elegan dengan duduk melingkar, wali kelas (mewakili sekolah/madrasah) menyampaikan informasi program sekolah dan perkembangan peserta didik, demikian sebaliknya orang tua menyampaikan kondisi anak ketika dirumah dalam dialog yang fair dan luwes, dalam posisi yang sama, sebagai orang dewasa yang sama-sama bertanggungjawab mengarahkan, mengasuh dan membimbing indivudu dengan potensi dan segala pengalamannya untuk mencapai kedewasaan. Tentunya membutuhkan keseriusan dari kedua belah pihak. Wali kelas hendaknya cukup representatif sebagai duta sekolah dan orang tua tidak begitu saja mewakilkan kepada orang lain yang tidak tahu kondisi dan perkembangan anak ketika di rumah.
Di dalam buku Raport dilaporkan beberapa hal, diantaranya prestasi yang diraih anak pada tiap-tiap mata pelajaran, kehadiran, kepribadian, kegiatan pengembangan diri dan saran Wali Kelas yang berupa harapan atau motivasi. Semua yang tertera di buku raport merupakan hasil final dari sekian proses yang telah dilalui/dijalankan. Ambil contoh prestasi belajar anak yang ditetapkan melalui penghitungan nilai ulangan blok atau ulangan harian, penugasan-penugasan / praktikum dan nilai ulangan akhir semester di sertai standarisasi yang bernama Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Apa yang dirumuskan para perancang pendidikan memang sangatlah ideal. Namun idealisme tersebut kadang tidak terlaksana di lapangan, dengan beragam situasi dan kondisi yang melingkupi. Ibarat gayung tidak bersambut. Demikian pula penetapan KKM. Idealnya KKM ditetapkan berdasarkan intake, keberagaman dan daya dukung, sehingga diperoleh gambaran yang benar-benar mencerminkan kemampuan dasar peserta didik secara apa adanya. Melalui penetapan KKM guru dapat menentukan dan mengukur keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan.

Adalah realita yang patut disayangkan apabila KKM ditentukan secara asal. Hal ini menimbulkan minimal dua kemungkinan, pertama pembelajaran menjadi menjemukan dan membosankan bagi anak karena mereka dapat mencapai ketuntasan secara mudah. kedua pembelajaran terasa berat karena peserta didik merasa terlalu sulit mencapai ketuntasan dalam belajarnya. Apapun kemungkinannya, akan lebih ironis lagi apabila terjadi rekayasa supaya semua siswa dapat mencapai batas minimal ketuntasan belajarnya melalui cara-cara yang tidak edukatif, mungkin dengan alasan supaya dikatakan berhasil pembelajarannya, atau supaya nilai rata-ratanya tinggi sehingga dapat masuk/diterima pada sekolah-sekolah tertentu, atau alasan-alasan lain yang tentu akan merusak nilai-nilai esensial pendidikan, menggerogoti kualitas pendidikan, yang pada akhirnya akan menjerumuskan pendidikan pada jurang peradaban yang hina. Sungguh ironi yang memalukan sekaligus memilukan.

Nah! Adakah Anda terusik dengan tulisan ini? Itu berarti Anda memiliki kepedulian sekaligus kecemasan akan hari gemilang pendidikan kita. Marilah bergerak dan berkreasi, melompati berbagai keterbatasan agar pendidikan menempati posisi yang seharusnya sebagaimana yang kita idamkan. Namun apabila Anda hanya mampu menarik nafas dalam-dalam sambil mengelus dada, tidak masalah. Mungkin ini termasuk selemah-lemah iman, seperti kondisi yang digambarkan Nabi Muhammad SAW melalui sabdanya terhadap sikap yang sama dalam menghadapi kemungkaran, tanpa sedikitpun bermasud menyinggung, meremehkan apalagi merendahkan pihak tertentu. Salam edukasi!

Pernah diterbitkan La Rayba, edisi 44/ Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *